Sabtu, 09 November 2019

*Indah Itu Bernama Giligenting*

Pantai 9

Kahuripan

INI masih tentang Pulau Giligenting. Tidak akan pernah ada habisnya untuk dituliskan. Pulau kecil, tetapi bagaiku, itulah cinta tak terkira. Tanah kelahirankku.

Kawan, aku akan membahas keindahan pulau kecil ini. Kalian para pembaca tidak usah meragukan akan keindahannnya terutama di sektor wisata.

Giligenting mempunyai dua icon wisata yang di unggulkan yakni Pantai Sembilan dan pantai Kahuripan. Di kedua wisata tersebut, tidak hanya wisata lokal saja yang mengunjungi bahkan wisatawan mancanegara sudah pernah merasakan indahnya pantai tersebut.

Untuk menuju pulauku ini, kalian harus menyebrangi lautan dalam, kurang lebih waktu yang di tempuh 30 menit. untuk transportasi, kita tidak usah bingung karena sudah ada kapal yang beroperasi setiap harinya, dengan cukup mengeluarkan gocek 10 ribu untuk satu orang penumpang. kalau kita bawa kendaraan motor sendiri bayarnya beda lagi tapi harga tetap sama 10 ribu per motor, murah meriah bukan. hehe.

Jadi sudah ya, tidak perlu aku panjang lebar bercerita tentang keindahan dua wisata tersebut, nanti kalian malah tambah penasaran bukan.

Aku rekomendasikan, kalian langsung datang lalu saja. Aku berani janji, kalian tidak akan menyesal pokoknya deh jika ke pantai 9 dan Kahuripan. Aku tunggu kalian semua di giligenting ya rek.!!!

Sabtu, 02 November 2019


*AKU ANAK PULAU*


AKU adalah anak pulau. Tepatnya di pulau terpucuk di Madura. Namanya pulau Giligenting, salah satu Kecamatan Kabupaten Sumenep.

Betapa tidak disebut kecil, kawan. Giligenting ini hanya terdapat empat Desa saja. Saya sebutkan: yaitu Desa Beringsang, Desa Gedungan, dan Desa Galis, dan terakhir yakni Desa Aengnganyar, termasuk salah satu penduduknya adalah aku.

Aku mengakui, aku bersyukur hingga saat ini karena bisa mengenyam pendidikan yang baik. Itu bila melihat masyarakat di pulauku itu hingga kini tingkat kesadaran pendidikannya masih begitu rendah.

Saya contohkan misalkan, angkatan SMAku saja, dari puluhan anak, yang mau melanjutkan ke perguruan tinggi hanya ada beberapa. Problemnya bukan soal ekonomi, karena boleh dibilang, masyarakat di pulauku nyaris tidak ada yang mengenal kata miskin. Akan tetapi sejahtera nan makmur.

Bagi teman-teman perempuanku, mensedtnya, meskipun nanti mereka pendidikannya setinggi langit, alakhir hanya berlabuh di dapur, sumur dan kasur saja. Tetapi bagi kawan laki-lakiku mengangap, sekolah tinggi bagi mereka tidak menjamin menjadi "kaya". Paling kata mereka hanya menghabiskan uang orang tua saja.

Tentu itu sebagian saja, ada sebagian ko, yang pemikirannya sudah jauh maju. Menggap pendidikan adalah sangat penting. Dan tidak sedikit dari mereka yang berhasil dan sukses.

Kebanyakan dari penduduk giligenting adalah merantau ke ibu kota untuk mencari nafkah di sana. Membuka warung sembako. Biasanya mereka pulang satu tahun sekali pada bulan puasa sampai bulan Syawal. Lalu akan kembali lagi ke perantauannya. Seterusnya begitu.

Bahkan ada yang tidak pulang sama sekali, mungkin mereka sudah lupa jalan pulang. hehe. Atau tidak pulang karena sudah kaya raya.

Bagi orang tua yang merantau, mereka akan menitipkan anak-anak nya di kampung bersama nenek dan kakeknya yang renta. Bisa di bilang, mereka hanya memproduksi anak saja. Tapi tidak mau mengurus nya dan di tinggal di kampung.

Aku masih bersyukur, nasibku tidak sama seperti mereka, aku dilahirkan dan dibesarkan bersama kedua orang tua dan saudara-saudaraku. Dan mensedt tentang pendidikan adalah nomer satu.