Di pagi yang cerah ini, aku santai setelah menyelesaikan beberapa aktivitas sambil duduk dan duduk pesan yang masuk, tak lama kemudian ada tamu yang mengucapkan salam, ternyata orang itu mau membagikan bubur. Aku ingat kalau saat ini sudah masuk bulan Muharram atau orang Madura disebut bulan sora.
Kebetulan ni belum sarapan, tanpa berlama-lama setelah yang mengantar pulang langsung aku santap, tak terasa dengan sekejap bubur itu ludes tak tersisa.
Setelah kenyang aku kepikiran untuk menulis sedikit tentang tajin sora, bicara tentang tradisi dan kebudayaan di Indonesia sudah tidak diragukan lagi, memang surga nya.
Tradisi atau kebudayaan, ya .. Indonesia memang terkenal dengan tradisi dan kebudayaan yang sangat beragam, setiap daerah pasti mempunyai kebudayaan masing-masing.
Di Madura, tepat nya kab Sumenep di mana aku tinggal juga mempunyai tradisi sendiri pada bulan Muharram atau (bulen sora atau disebut juga bulen tajin dalam bahasa Madura). Masyarakat akan membuat masakan bubur atau (tajin), yang akan dibagikan kepada para tetangga atau kerabat dekat, atau di sebut juga tradisi Ter-Ater.
Masyarakat mempercayai bahwa dengan membuat tajin sora bisa menolak balak, tajin sora merupakan penulak bala '. Sehubung dengan keyakinannya bahwa bulan muharram termasuk diantara bulan-bulan yang mengandung bala '.
Menurut keterangan yang ada, bahwa tradisi ini bermuara pada peristiwa Nabi Nuh. Ketika Nabi nuh dan kaumnya turun dari kapalnya mereka merasa kelaparan. sementara mereka mengawasi bekal. Di kala itu yang tersisa hanya tujuh macam biji-bijian. Satu macam biji-bijian itu sebanyak satu genggam. Lalu nabi nuh memerintahkan untuk mengumpulkan semua biji-bijian yang tersisa. Kemudian beliau memasaknya menjadi semacam bubur. nama ini diambil dari kitab hasyiyah I'anatu al-Thalibin II, 444.
Nama Tajin Sora dinisbatkan pada tanggal sepuluh (Asyura ') Bulan Muharram. Bahkan Bulan Muharrampun - bagi orang Madura - disebut Bulen Sora.
Dari sini kita dapat mengambil pelajaran, pelaksanaan tajin ini terdapat banyak hikmah yang bisa kita petik. Diantaranya yang paling dapat kita rasakan adalah bentuk solidaritas, sebab dengan mempersembahkan tajin ke kerabat, tetangga sekitar dapat mempererat dan meningkatkan tali persaudaraan. Selain itu Hikmah yang dapat kita ambil dari tradisi ini adalah dapat menarik rizki.
Tradisi tajin sora merupakan salah satu kekayaan Madura dan sudah turun temurun. Oleh karena itu kita sebagai warga Madura harus menjaga tradisi ini dengan baik. Apalagi tradisi ini mengikuti peristiwa yang terjadi pada nabi nuh. Yang terpenting selama tradisi yang ada di madura tidak menyimpang dari ajaran agama Islam, kita selayaknya menjaganya dengan baik dan terus melestarikan nya sampai kapanpun.




