Senin, 31 Agustus 2020

Tajin sora


Di pagi yang cerah ini, aku santai setelah menyelesaikan beberapa aktivitas sambil duduk dan duduk pesan yang masuk, tak lama kemudian ada tamu yang mengucapkan salam, ternyata orang itu mau membagikan bubur. Aku ingat kalau saat ini sudah masuk bulan Muharram atau orang Madura disebut bulan sora.

Kebetulan ni belum sarapan, tanpa berlama-lama setelah yang mengantar pulang langsung aku santap, tak terasa dengan sekejap bubur itu ludes tak tersisa.

Setelah kenyang aku kepikiran untuk menulis sedikit tentang tajin sora, bicara tentang tradisi dan kebudayaan di Indonesia sudah tidak diragukan lagi, memang surga nya.

Tradisi atau kebudayaan, ya .. Indonesia memang terkenal dengan tradisi dan kebudayaan yang sangat beragam, setiap daerah pasti mempunyai kebudayaan masing-masing.

Di Madura, tepat nya kab Sumenep di mana aku tinggal juga mempunyai tradisi sendiri pada bulan Muharram atau (bulen sora atau disebut juga bulen tajin dalam bahasa Madura). Masyarakat akan membuat masakan bubur atau (tajin), yang akan dibagikan kepada para tetangga atau kerabat dekat, atau di sebut juga tradisi Ter-Ater.

Masyarakat mempercayai bahwa dengan membuat tajin sora bisa menolak balak, tajin sora merupakan penulak bala '. Sehubung dengan keyakinannya bahwa bulan muharram termasuk diantara bulan-bulan yang mengandung bala '.

Menurut keterangan yang ada, bahwa tradisi ini bermuara pada peristiwa Nabi Nuh. Ketika Nabi nuh dan kaumnya turun dari kapalnya mereka merasa kelaparan. sementara mereka mengawasi bekal. Di kala itu yang tersisa hanya tujuh macam biji-bijian. Satu macam biji-bijian itu sebanyak satu genggam. Lalu nabi nuh memerintahkan untuk mengumpulkan semua biji-bijian yang tersisa. Kemudian beliau memasaknya menjadi semacam bubur. nama ini diambil dari kitab hasyiyah I'anatu al-Thalibin II, 444.

Nama Tajin Sora dinisbatkan pada tanggal sepuluh (Asyura ') Bulan Muharram. Bahkan Bulan Muharrampun - bagi orang Madura - disebut Bulen Sora.

Dari sini kita dapat mengambil pelajaran, pelaksanaan tajin ini terdapat banyak hikmah yang bisa kita petik. Diantaranya yang paling dapat kita rasakan adalah bentuk solidaritas, sebab dengan mempersembahkan tajin ke kerabat, tetangga sekitar dapat mempererat dan meningkatkan tali persaudaraan. Selain itu Hikmah yang dapat kita ambil dari tradisi ini adalah dapat menarik rizki.

Tradisi tajin sora merupakan salah satu kekayaan Madura dan sudah turun temurun. Oleh karena itu kita sebagai warga Madura harus menjaga tradisi ini dengan baik. Apalagi tradisi ini mengikuti peristiwa yang terjadi pada nabi nuh. Yang terpenting selama tradisi yang ada di madura tidak menyimpang dari ajaran agama Islam, kita selayaknya menjaganya dengan baik dan terus melestarikan nya sampai kapanpun.

Sabtu, 18 April 2020

*Menyambut Kedatangan Bulan Suci*


Bulan sya'ban adalah bulan yang berada diurutan ke delapan dalam hitungan kalender Hijriyah, termasuk sala satu bulan yang dimuliakan dalam Islam . Oleh karena itu dibulan ini ummat islam dianjurkan untuk memperbanyak membaca sholawat kepada junjungan kita nabi Muhammad Saw.

Di Madura bulan sya'ban atau yang disebut "Bulân rèbbâ" biasanya banyak teradisi-tradisi yang dilakukan oleh masyarakat.Tepatnya di Sumenep khususnya ditempat kelahiran saya di desa aengganyar kecamatan Giligenting.

Sudah menjadi suatu hal yang lumrah atau telah menjadi sebuah kebiasaan masyarakat di desa saya setiap tahunnya ketika sudah masuk pada bulan rebba, apalagi kalau sudah dipertengahan bulan setiap rumah akan membuat acara selamatan untuk mendoakan para leluhur mereka atau kerabat yang sudah meninggal, selain itu juga untuk memuliakan bulan sya'ban dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Biasanya tuan rumah akan mengundang tetangga sekitar untuk menghadiri acara tersebut atau lebih dikenal oleh masyarakat Madura yakni konjengan, rangkaian acara yang dilakukan biasanya tahlilan dan makan-makan.

Acara seperti ini akan dilakukan hampir setiap hari bergantian dari satu rumah kerumah yang lain, bahkan kadang ada sampai 2 atau 3 kali diadakan ditempat yang berbeda. Bahasa candaannya "Nyaman ta'usa atana' ngakan kona orèng" artinya enak tidak usah masak dirumah karena sudah makan dirumahnya orang". hehe...

Momentum seperti itulah yang selalu membuat rindu kampung halaman, mengingat posisi saya sekarang masi berada diperantaun, hal itulah yang menginspirasi saya untuk sedikit menulis tradisi kampung halaman. Dan untuk mengisi waktu kosong diasrama selama locdwon ditengah maraknya wabah virus corona.

Dan mungkin berkat budaya tersebutlah Sumenep sampai saat ini masi berada di zona Hijau, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sedekah dapat menolak balak(mara bahaya) dan menjadikan umur panjang" semoga tetap lestari budaya tersebut sampai kapanpun.

 Banyak cara yang dilakukan oleh masyarakat dalam menjalankan perintah agama dan mempunyai keunikan masing-masing namun tetap tujuan nya sama melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Bergembiralah kita karena sebentar lagi akan memasuki bulan suci Ramadhan bulan yang penuh berkah dan ampunan, Barangsiapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka. (Nash riwayat ini disebutkan di kitab Durrat An-Nasihin).

Sekian terimakasih kurang lebih nya saya minta maaf, semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang membaca. Kritik dan saran sangat di butuhkan untuk memperbaiki tulisan selanjutnya.

Kamis, 02 Januari 2020

*TANTARETAN*

Inafeed.com

Bagaimana kabarnya taretan? Semoga tetap semangat dalam mengawali awal tahun 2020 dan semoga sehat selalu dalam setiap langkah kehidupan yang penuh kejutan ini.

Pada tulisan kali ini, aku akan menceritakan pengalaman diperantauan. Kini, kurang lebih satu tahun telah berlalu, terasa waktu terus berputar, hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun pun berlalu.

Kawan, ketika kalian jauh dari orang-orang yang kalian cintai terutama keluarga, apa yang kalian rasakan? Rindu bukan?

Ya Rindu akan kehangatan berkumpul bersama keluarga khususnya orang tua, saudara-saudara, dan rindu akan kampung halaman, dimana hari demi hari selalu berkumpul bersama tapi kini terpisahkan oleh jarak, ruang dan waktu.
 
Yang biasanya semua kebutuhan masi bergantung kepada orang tua, makan di siapkan, mau jajan tinggal minta, apa -apa semuanya orang tua. Tapi kini semua berubah sejak pencarian jati diriku di mulai, sejak itu pula aku harus belajar mengurus semua keperluan ku sendiri.
   
Tidak mudah hidup di perantauan, butuh yang namanya adaptasi dengan lingkungan baru, teman baru, semuanya terasa asing bagi hidup ku saat itu. Apalagi belum punya pengalaman merantau dan ini pengalaman pertama ku.
     
Sajauh ini aku masi belum mengerti kenapa aku berada di sini, ya di Jombang kota yang di kenal dengan sebutan Jombang beriman itu, yang sebelumnya aku pun tidak tau yang namanya Jombang. Seakan-akan diriku terhanyut oleh gelombang yang di bawa oleh angin untuk di hempaskan, inilah yang disebut sekenario Tuhan.
 
Dan aku sekarang mulai di sibukkan dengan kegiatan-kegiatan baruku, salah satunya menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi yang ada di Jombang, UNIPDU ya nama kampus nya dan kampus insan penuh cinta sebutannya.
   
Pengalaman-pengalaman baru mulai banyak aku dapatkan meskipun saat ini aku masi semester 3, masi mahasiswa baru (maba)lah. Hehe. Dan aku sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan, teman dan lain-lain.
 
Aku masih ingat, Dulu ketika berangkat meninggalkan rumah dan kampung halaman tercinta hanya ada satu niat dalam hati ku yaitu mencari ilmu yang barokah, ya hanya dengan ilmu yang bermanfaat lah hidup akan menjadi bahagia. meskipun tidak semuanya cerita kehidupan bercerita tentang kebahagiaan, itu sudah menjadi hukum alam ada baik dan buruk.

Yang namanya orang hidup pasti ada yang namanya masalah dan tidak akan lepas dari masalah, tapi percayalah setiap masalah pasti ada kemudahan dan jalan keluar.
 
Jadi sampai di sini dulu ya sahabat ceritanya dan semoga tetap berlanjut di blogger selanjutnya sekian.

Sekian
SUMENEP RAMAH TAMAH

indtimes.com

Diantara empat kabupaten di Madura, Sumenep lah yang terkenal dengan keramah tamahannya entah itu dari segi bahasa maupun perilaku. Hal itu tidak lepas dari budaya-budaya Keraton.
 
Dulu, Sumenep adalah pusat kerajaan, sebelum sistem pemerintahannya berganti nama menjadi Bupati pada era panjajahan kolonial, tepatnya pada masa-masa runtuhnya kerajaan Singasari dan mulai berdiri nya pemerintahan kerajaan Majapahit .

Dalam sejarahnya, pada masa itu, Raja pertamanya adalah Arya wiraraja, yang menurut sejarah dulunya Arya wiraraja adalah seorang ahli ilmu penasehat / pengatur stategi dan dengan keahliannya itu Arya wiraraja berhasil membantu berdiri nya kerajaan Majapahit bersama dengan Raden Wijaya dan menghancurkan tentara cina / tartar serta mengusirnya dari tanah Jawa.

Sekitar tanggal 31 Oktober 1262 M, Arya wiraraja di lantik oleh Raja Kartanegara penguasa kerajaan Singasari pada saat itu menjadi Adipati pertama Sumenep dan di jadikan rujukan bagi penetapan hari jadi kabupaten Sumenep, yang sampai sekarang masi di peringati setiap tgl 31 Oktober setiap tahun.
         
Tidak heran lagi kalau Sumenep terkenal dengan keramah tamahannya, di banding kabupaten lainnya. Karena sudah tertanam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sumenep kebudayaan keraton.
     
Bahkan, di Sumenep dikenal dengan sebutan solonya madura, dikarenakan hingga saat ini bahasa halus di sumenep masi terpelihara karena di selamatkan oleh pesantren.

Di pesantren, dalam pengajian-pengajian kitab serta pergaulan sehari-hari masi di terapkan bahasa Madura dalam semua tingkatan, termasuk yang paling halus masi di gunakan.

Rabu, 01 Januari 2020

*SUMBER*


Banyak orang-orang belum tahu bahwa di Pulau giligenting ada sumber mata air tawar yang berada di pinggir laut. Tepatnya berada di Dusun Sumber,Desa Gedugan.

Kedengarannya memang aneh, tapi ini asli dan nyata. Sukar dibayangkan bagaimana seharusnya sumber air yang dekat dengan laut pasti asin. Apalagi sampai sumber air itu berada di tepian laut.

Ketika air laut mulai surut di saat itulah akan mulai tampak seperti kolam kecil dan disaat itulah sumber air tawar itu tanpak dan kita baru bisa menikmati air itu. Unikan begitulah kata yang tapat menggambarkan sumber air tawar yang berada di laut sumber, gedugan ini.

Konon, diberikan nama Dusun Sumber dikarenakan adanya sumber mata air tersebut.
Sekian dulu ya, langsung datang dan nikmati sendiri sensasi nya.