Kamis, 02 Januari 2020

*TANTARETAN*

Inafeed.com

Bagaimana kabarnya taretan? Semoga tetap semangat dalam mengawali awal tahun 2020 dan semoga sehat selalu dalam setiap langkah kehidupan yang penuh kejutan ini.

Pada tulisan kali ini, aku akan menceritakan pengalaman diperantauan. Kini, kurang lebih satu tahun telah berlalu, terasa waktu terus berputar, hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun pun berlalu.

Kawan, ketika kalian jauh dari orang-orang yang kalian cintai terutama keluarga, apa yang kalian rasakan? Rindu bukan?

Ya Rindu akan kehangatan berkumpul bersama keluarga khususnya orang tua, saudara-saudara, dan rindu akan kampung halaman, dimana hari demi hari selalu berkumpul bersama tapi kini terpisahkan oleh jarak, ruang dan waktu.
 
Yang biasanya semua kebutuhan masi bergantung kepada orang tua, makan di siapkan, mau jajan tinggal minta, apa -apa semuanya orang tua. Tapi kini semua berubah sejak pencarian jati diriku di mulai, sejak itu pula aku harus belajar mengurus semua keperluan ku sendiri.
   
Tidak mudah hidup di perantauan, butuh yang namanya adaptasi dengan lingkungan baru, teman baru, semuanya terasa asing bagi hidup ku saat itu. Apalagi belum punya pengalaman merantau dan ini pengalaman pertama ku.
     
Sajauh ini aku masi belum mengerti kenapa aku berada di sini, ya di Jombang kota yang di kenal dengan sebutan Jombang beriman itu, yang sebelumnya aku pun tidak tau yang namanya Jombang. Seakan-akan diriku terhanyut oleh gelombang yang di bawa oleh angin untuk di hempaskan, inilah yang disebut sekenario Tuhan.
 
Dan aku sekarang mulai di sibukkan dengan kegiatan-kegiatan baruku, salah satunya menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi yang ada di Jombang, UNIPDU ya nama kampus nya dan kampus insan penuh cinta sebutannya.
   
Pengalaman-pengalaman baru mulai banyak aku dapatkan meskipun saat ini aku masi semester 3, masi mahasiswa baru (maba)lah. Hehe. Dan aku sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan, teman dan lain-lain.
 
Aku masih ingat, Dulu ketika berangkat meninggalkan rumah dan kampung halaman tercinta hanya ada satu niat dalam hati ku yaitu mencari ilmu yang barokah, ya hanya dengan ilmu yang bermanfaat lah hidup akan menjadi bahagia. meskipun tidak semuanya cerita kehidupan bercerita tentang kebahagiaan, itu sudah menjadi hukum alam ada baik dan buruk.

Yang namanya orang hidup pasti ada yang namanya masalah dan tidak akan lepas dari masalah, tapi percayalah setiap masalah pasti ada kemudahan dan jalan keluar.
 
Jadi sampai di sini dulu ya sahabat ceritanya dan semoga tetap berlanjut di blogger selanjutnya sekian.

Sekian
SUMENEP RAMAH TAMAH

indtimes.com

Diantara empat kabupaten di Madura, Sumenep lah yang terkenal dengan keramah tamahannya entah itu dari segi bahasa maupun perilaku. Hal itu tidak lepas dari budaya-budaya Keraton.
 
Dulu, Sumenep adalah pusat kerajaan, sebelum sistem pemerintahannya berganti nama menjadi Bupati pada era panjajahan kolonial, tepatnya pada masa-masa runtuhnya kerajaan Singasari dan mulai berdiri nya pemerintahan kerajaan Majapahit .

Dalam sejarahnya, pada masa itu, Raja pertamanya adalah Arya wiraraja, yang menurut sejarah dulunya Arya wiraraja adalah seorang ahli ilmu penasehat / pengatur stategi dan dengan keahliannya itu Arya wiraraja berhasil membantu berdiri nya kerajaan Majapahit bersama dengan Raden Wijaya dan menghancurkan tentara cina / tartar serta mengusirnya dari tanah Jawa.

Sekitar tanggal 31 Oktober 1262 M, Arya wiraraja di lantik oleh Raja Kartanegara penguasa kerajaan Singasari pada saat itu menjadi Adipati pertama Sumenep dan di jadikan rujukan bagi penetapan hari jadi kabupaten Sumenep, yang sampai sekarang masi di peringati setiap tgl 31 Oktober setiap tahun.
         
Tidak heran lagi kalau Sumenep terkenal dengan keramah tamahannya, di banding kabupaten lainnya. Karena sudah tertanam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sumenep kebudayaan keraton.
     
Bahkan, di Sumenep dikenal dengan sebutan solonya madura, dikarenakan hingga saat ini bahasa halus di sumenep masi terpelihara karena di selamatkan oleh pesantren.

Di pesantren, dalam pengajian-pengajian kitab serta pergaulan sehari-hari masi di terapkan bahasa Madura dalam semua tingkatan, termasuk yang paling halus masi di gunakan.

Rabu, 01 Januari 2020

*SUMBER*


Banyak orang-orang belum tahu bahwa di Pulau giligenting ada sumber mata air tawar yang berada di pinggir laut. Tepatnya berada di Dusun Sumber,Desa Gedugan.

Kedengarannya memang aneh, tapi ini asli dan nyata. Sukar dibayangkan bagaimana seharusnya sumber air yang dekat dengan laut pasti asin. Apalagi sampai sumber air itu berada di tepian laut.

Ketika air laut mulai surut di saat itulah akan mulai tampak seperti kolam kecil dan disaat itulah sumber air tawar itu tanpak dan kita baru bisa menikmati air itu. Unikan begitulah kata yang tapat menggambarkan sumber air tawar yang berada di laut sumber, gedugan ini.

Konon, diberikan nama Dusun Sumber dikarenakan adanya sumber mata air tersebut.
Sekian dulu ya, langsung datang dan nikmati sendiri sensasi nya.